KLASIFIKASI MAKHLUK
HIDUP
A. Hasil Penelitian
KLASIFIKASI
HEWAN BERDASARKAN CIRI-CIRINYA
|
NO
|
NAMA HEWAN
|
CIRI HEWAN
|
|
Tulang Belakang
|
Homoiterm/
Poikiloterm
|
Cara Bernafas
|
Kaki
|
Segmen Tubuh
|
Jumlah Kaki
|
Jumlah Sayap
|
|
1
|
Semut
|
-
|
H
|
Trakea
|
ü
|
-
|
6
|
-
|
|
2
|
Undur-undur
|
-
|
H
|
Trakea
|
ü
|
ü
|
4
|
4
|
|
3
|
Nyamuk
|
-
|
H
|
Trakea
|
ü
|
ü
|
6
|
2
|
|
4
|
Ayam
|
-
|
H
|
Paru-paru
|
ü
|
-
|
2
|
2
|
|
5
|
Capung
|
-
|
H
|
Trakea
|
ü
|
ü
|
6
|
4
|
|
6
|
Kupu-kupu
|
-
|
H
|
Trakea
|
ü
|
ü
|
6
|
4
|
|
7
|
Cacing
|
-
|
H
|
Kulit
|
-
|
ü
|
-
|
-
|
DESKRIPSI
1.
CAPUNG
Capung
merupakan serangga yang menarik, memiliki 4 sayap yang berselaput dan banyak
sekali urat sayapnya. Bentuk kepala besar dengan mata yang besar pula. Antena
berukuran pendek dan ramping. Capung ini memiliki toraks yang kuat dan kaki
yang sempurna. Abdomen panjang dan ramping, tidak mempunyai ekor, tetapi
memiliki berbagai bentuk umbai ekor yang telah berkembang dengan baik.
Mata
capung sangat besar dan disebut mata majemuk, terdiri dari banyak mata kecil
yang disebut ommatidium. Dengan mata ini capung mampu melihat ke segala arah
dan dengan mudah dapat mencari mangsa atau meloloskan diri dari musuhnya,
bahkan dapat mendeteksi gerakan yang jauhnya lebih dari 10 m dari tempatnya
berada. Tubuh capung tidak berbulu dan biasanya berwarna-warni. Beberapa jenis
capung ada yang mempunyai warna tubuh mengkilap(metalik).
Kedua
pasang sayap capung berurat-urat. Para ahli capung dapat mengidentifikasi dan
membedakan kelompok capung dengan melihat susunan urat-urat pada sayap.
Masing-masing susunan urat memiliki nama tersendiri.
Kaki
capung tidak terlalu kuat, oleh karena itu capung menggunakan kakiknya bukan
untuk berjalan, melainkan untuk berdiri (hinggap) dan menangkap mangsanya.
Kaki-kaki capung yang ramping itu juga dapat membentuk kurungan untuk membawa
mangsanya. Capung biasa dapat menangkap mangsa dan memakannya sambil terbang, sedangkan
capung jarum makan sewaktu hinggap.
Habitat Capung
Capung
menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai nimfa yang sangat bergantung pada
habitat perairan seperti sawah, sungai, danau, kolam atau rawa. Tidak ada satu
jenis pun capung yang hidup di laut, namun ada beberapa jenis yang tahan
terhadap tigkat kadar garam tertentu. Ada juga nimfa capung hutan tropis yang
lembab hidup di darat.
Capung melakukan kegiatannya pada siang hari, saat matahari bersinar. Oleh
karena itu, pada hari yang panas capung akan terbang sangat aktif dan sulit
untuk didekati. Sedangkan pada dini hari atau di sore hari saat matahari
tenggelam kadang-kadang capung lebih mudah didekati.
Bila
diperhatikan, ada 2 macam capung dengan perbedaan ukuran yang sangat mencolok
yaitu capung jarum dan capung biasa. Capung jarum (anak bangsa Zygoptera)
ukuran tubuhnya kecil dan ramping seperti jarum. Pada waktu hinggap, sayap
capung jarum terlipat / menutup diatas punggungnya. Sedangkan capung biasa
(anak bangsa Anisoptera) tubuhnya lebih besar dan lebih kekar daripada capung
jarum, dan umumnya dapat terbang lebih cepat. Sayap capung bisa terentang pada
waktu hinggap. Capung biasa termasuk penerbang ulung karena kecepatan
terbangnya yang tinggi, bahkan ada jenis yang dapat terbang mencapai 64 km /
jam.
Daur
Hidup capung
Daur
hidup capung merupakan metamorfosis Ametabola. Nimfa capung terkenal sebagai
pemangsa yang ganas, mempunyai bibir bawah yang dapat dijulurkan untuk menagkap
mangsanya. Nimfa hidup di dalam air dan bernafas dengan insang. Dalam jangka
waktu beberapa bulan hingga lima tahun, bergantung jenisnya, nimfa kemudian
akan naik ke permukaan air dengan memanjat daun atau tumbuhan untuk kemudian
melepaskan kulit dan menjadi capung dewasa.
Telur
Telur capung ada yang berbentuk panjang silindris dan ada pula yang bulat.
Disudut telur terdapat satu atau beberapa lubang sangat kecil (micropyle) yang
dapat dimasuki sperma sebelum telur diletakan oleh induknya. Perkembangan telur
terjadi setelah telur diletakkan, dan larvanya mulai menetas dlam waktu 1-3
minggu.
Nimfa
Tahap perkembangan nimfa disebut juga instar. Instar nimfa terakhir disebut F-0
(atau F saja), satu tahap sebelum disebut F-1, dua tahap sebelumnya F-2, dst.
Nimfa mungkin saja masa istirahat (diapause) yang menunda perkembangannya serta
memastikan kemunculannya pada musim yang sesuai. Selama masa istirahat, nimfa
akan mengurangi kegiatan makan, dan perkembangannya serta kegiatan nya jauh
berkurang dari biasanya.
Dewasa
Nimfa memerlukan waktu untuk menyusun kembali susunan tubuh serta perilakunya
sebelum berubah menjadi capung dewasa. Satu atau dua hari sebelum menjadi
bentuk dewasa, nimfa akan memilih tempat yang sesuai untuk kemunculannya.
Sejenak sebelum kemunculannya, fungsi insang berhenti dan segera digantikan
oleh lubang dubur.
Perilaku menarik dari capung
Kawin
Pada
beberapa jenis, capung jantan yang siap kawin memiliki kebiasaan untuk
menguasai suatu ‘wilayah’. Capung jantan umumnya berwarna cerah atau lebih
mencolok daripada betina. Warna yang mencolok ini membantu menunjukan
wilayahnya kepada jantan lain. Perkelahian diantara capung-capung jantan sering
terjadi dalam memperebutkan wilayah masing-masing.
Bila
ada seekor capung betina terbang mendekati salah satu wilayah, maka jantan
penghuni akan mencoba mengawininya. Capung melakukan perkawinan sambil terbang,
umumnya disekitar perairan ; dengan menggunakan umbai ekornya, capung jantan
akan mencegnkeram bagian belakang kepala capung betina. Kemudian capung betina
akan membengkokkan ujung perutnya menuju alat kelamin jantan - yang sebelumnya
sudah terisi sel-sel sperma. Keadaan ini membentuk posisi yangf menarik seperti
lingkaran yang disebut “roda perkawinan”. Setelah berhasil, sperma akan
memasuki tubuh capung betina dan membasahi telur-telurnya.
Bertelur
Setelah
kawin, capung betina siap untuk meletakan telur-telurnya dengan bernagai cara
sesuai dengan jenisnya ; ada yang menyimpan di sela-sela batang tanaman air,
ada pula yang menyelam ke dalam air untuk bertelur. Oleh sebab itu capung
selalu ‘terikat’ dengan air, baik untuk meletakkan telur-telurnya maupun untuk
kehidupan nimfanya.
Pada waktu
capung betina meletakkan telur-telrnya, capung jantann melayang-layang
diatasnya atau tetap menempel pada tubuh betina dalam posisi berboncengan atau
“tandem”.
Berjemur
Capung mempunyai
kebiasaan berjemur dibawah sinar matahari untuk menghangatkan tubuhnya dan
menguatkan otot-otot sayapnya untuk terbang.
Bentuk
capung yang anggun serta warna yang indah sering menjadikan capung sebagai
sumber inspirasi bagi para seniman lukis, perancang mode, perhiasan, penulis
lagu maupun puisi. Gerakan terbangnya yang cepat dan dinamis menjadi inspirasi
bagi pada seniman seni tari.
Pada
zaman dahulu di Madagaskar, Indonesia dan Malaysia konon capung digunakan
sebagai makanan perangsang, dan ada pula yang menggunakannya sebagai obat. Di
beberapa daerah di Indonesia, terutama di pedesaan, capung tentara sering
digunakan untuk menghentikan kebiasaan mengompol pada anak-anak. Capung yang
masih hidup di letakkan di atas pusar anak hingga kaki capung menggelitik pusar
anak tersebut.
Lain
lagi di Jepang.
Di
negeri matahari terbit ini capung dilindungi dan tidak boleh dilukai atau di
bunuh, sebab capung menurut kepercayaan orang jepang merupakan symbol kejayaan
dan semangat serta penghubung jiwa orang yang sudah meninggal.
Selain
itu capung ternyata bermanfaat langsung bagi manusia karena nimfa capung
memakan berbagai jenis binatang air termasuk jentik nyamuk yang dapat
menyebabkan penyakit malaria dan dmam berdarah. Di beberapa Negara-negara asia
timur baru-baru ini teah terungkap bahwa capung dapat digunakan sebagai
pembasmi efektif terhaap nyamuk penyebab penyakit.
2.
NYAMUK
Nyamuk adalah serangga tergolong dalam order Diptera; genera termasuk Anopheles, Culex, Psorophora, Ochlerotatus, Aedes, Sabethes, Wyeomyia, Culiseta, dan Haemagoggus untuk jumlah keseluruhan sekitar 35 genera yang
merangkum 2700 spesies. Nyamuk mempunyai dua sayap bersisik, tubuh yang
langsing, dan enam kaki panjang; antarspesies berbeda-beda tetapi jarang sekali
melebihi 15 mm.
Dalam bahasa Inggris, nyamuk dikenal
sebagai "Mosquito", berasal dari sebuah kata dalam bahasa Spanyol atau bahasa Portugis yang
berarti lalat kecil. Penggunaan kata Mosquito bermula sejak tahun
1583. Di Britania Raya nyamuk dikenal sebagai gnats.
Pada nyamuk
betina, bagian mulutnya membentuk probosis
panjang untuk menembus kulit mamalia (atau dalam sebagian kasus burung atau
juga reptilia dan amfibi
untuk menghisap darah. Nyamuk betina
memerlukan protein untuk pembentukan telur dan oleh karena diet nyamuk terdiri
dari madu
dan jus buah,
yang tidak mengandung protein, kebanyakan nyamuk betina perlu menghisap darah untuk mendapatkan
protein yang diperlukan. Nyamuk jantan berbeda dengan nyamuk betina, dengan
bagian mulut yang tidak sesuai untuk menghisap darah. Agak rumit nyamuk betina
dari satu genus, Toxorhynchites, tidak
pernah menghisap darah. Larva nyamuk besar ini merupakan pemangsa jentik-jentik
nyamuk yang lain. Nyamuk mengalami empat tahap dalam siklus hidup: telur,
larva, pupa, dan dewasa. Tempo tiga peringkat pertama bergantung kepada spesies
- dan suhu. Hanya nyamuk betina saja yang menyedot darah mangsanya. dan itu
sama sekali tidak ada hubungannya dengan makan. Sebab, pada kenyataanya, baik
jantan maupun betina makan cairan nektar bunga. sebab nyamuk betina memberi
nutrisi pada telurnya. Telur-telur nyamuk membutuhkan protein yang terdapat
dalam darah untuk berkembang.
Fase perkembangan
nyamuk dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa sangat menakjubkan. Telur nyamuk
biasanya diletakkan pada daun lembap atau kolam yang kering. Pemilihan tempat
ini dilakukan oleh induk nyamuk dengan menggunakan reseptor yang ada di bawah
perutnya. Reseptor ini berfungsi sebagai sensor suhu dan kelembapan. Setelah
tempat ditemukan, induk nyamuk mulai mengerami telurnya. Telur-telur itu
panjangnya kurang dari 1 mm, disusun secara bergaris, baik dalam kelompok
maupun satu persatu. Beberapa spesies nyamuk meletakkan telur-telurnya saling
berdekatan membentuk suatu rakit yang bisa terdiri dari 300 telur.
Selesai itu,
telur berada pada masa periode inkubasi (pengeraman). Pada periode ini,
inkubasi sempurna terjadi pada musim dingin. Setelah itu larva mulai keluar
dari telurnya semua dalam waktu yang hampir sama. Anak Nyamuk atau ENCU Sampai
siklus pertumbuhan ini selesai secara keseluruhan. Larva nyamuk akan berubah
kulitnya sebanyak 2 kali.
Selesai berganti kulit, nyamuk berada
pada fase transisi. Fase ini dinamakan "fase pupa". Pada fase ini,
nyamuk sangat rentan terhadap kebocoran pupa. Agar tetap bertahan, sebelum pupa
siap untuk perubahan kulit yang terakhir kalinya, 2 pipa nyamuk muncul ke
atas air. pipa itu digunakan untuk alat pernapasan.
Nyamuk dalam kepompong pupa yang cukup dewasa dan siap
terbang dengan semua organnya seperti antenaa, belalai, kaki, dada, sayap,
perut, dan mata besar yang menutupi sebagian besar kepalanya. lalu kepompong
pupa disobek di atas. Tingkat ketika nyamuk yang telah lengkap muncul ini
adalah tingkat yang paling membahayakan.
Nyamuk harus
keluar dari air tanpa kontak langsung dengan air, sehingga hanya kakinya yang
menyentuh permukaan air. Kecepatan ini sangatlah penting, meskipun angin tipis
dapat menyebabkan kematiannya. Akhirnya, nyamuk tinggal landas untuk
penerbangan perdananya setelah istirahat sekitar setengah jam.
Culex tarsalis bisa menyelesaikan siklus hidupnya dalam tempo 14 hari pada 20 °C
dan hanya sepuluh hari pada suhu 25 °C. Sebagian spesies mempunyai siklus
hidup sependek empat hari atau hingga satu bulan. Larva nyamuk dikenal sebagai jentik
dan didapati di sembarang bekas berisi air. Jentik bernafas
melalui saluran udara yang terdapat pada ujung ekor. Pupa biasanya seaktif
larva, tetapi bernafas melalui tanduk thorakis yang terdapat pada gelung
thorakis. Kebanyakan jentik memakan mikroorganisme, tetapi beberapa jentik
adalah pemangsa bagi jentik spesies lain. Sebagian larva nyamuk seperti Wyeomia hidup dalam keadaan
luar biasa. Jentik-jentik spesies ini hidup dalam air tergenang dalam tumbuhan
epifit atau di dalam air
tergenang dalam pohon periuk kera. Jentik-jentik spesies genus Deinocerites hidup di
dalam sarang ketam sepanjang pesisir pantai.
3.
SEMUT

Semut
adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama
dengan lebah dan tawon. Semut terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan
perbandingan jumlah yang besar di kawasan tropis. Semut dikenal dengan koloni
dan sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut per
koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu
semut. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk
mendukung kegiatan mereka. Koloni semut kadangkala disebut superorganisme dikarenakan koloni-koloni mereka
yang membentuk sebuah kesatuan.
Semut telah
menguasai hampir seluruh bagian tanah di Bumi. Hanya di beberapa
tempat seperti di Islandia,Greenland dan Hawaii, mereka tidak menguasai daerah tesebut. Di saat jumlah
mereka bertambah, mereka dapat membnetuk sekitar 15 - 20% jumlah biomassa
hewan-hewan besar.
Rayap, terkadang
disebut semut putih, tidak memiliki hubungan yang erat dengan semut,
walaupun mereka memiliki struktur sosial yang sama. Semut beludru, walaupun
menyerupai semut besar, tapi mereka merupakan tawon betina yang tidak bersayap.
Meskipun ukuran
tubuhnya yang relatif sangat kecil, semut adalah hewan terkuat kedua didunia.
Semut jantan mampu menopang beban dengan berat lima puluh kali dari berat
badannya sendiri, dapat dibandingkan dengan gajah yang hanya
mampu menopang beban dengan berat dua kali dari berat badannya sendiri. Posisi
pertama adalah Kumbang Badak dengan
kemampuan menopang beban dengan berat 850 kali dari berat Tubuh semut terdiri
atas tiga bagian, yaitu kepala, mesosoma (dada), dan metasoma (perut).
Morfologi semut cukup jelas dibandingkan dengan serangga lain yang juga memiliki
antena,
kelenjar metapleural, dan bagian
perut kedua yang berhubungan ke tangkai semut membentuk pinggang sempit
(pedunkel) di antara mesosoma (bagian rongga dada dan daerah perut) dan
metasoma (perut yang kurang abdominal segmen dalam petiole). Petiole yang dapat
dibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga
abdominal segmen ini bisa terwujud).
Tubuh semut, seperti serangga
lainnya, memiliki eksoskeleton atau kerangka luar yang memberikan perlindungan dan
juga sebagai tempat menempelnya otot, berbeda dengan kerangka manusia dan hewan
bertulang belakang. Serangga tidak memiliki paru-paru, tetapi mereka memiliki
lubang-lubang pernapasan di bagian dada bernama spirakel untuk sirkulasi udara dalam sistem respirasi mereka.
Serangga juga tidak memiliki sistem peredaran darah tertutup. Sebagai gantinya,
mereka memiliki saluran berbentuk panjang dan tipis di sepanjang bagian atas
tubuhnya yang disebut "aorta punggung" yang fungsinya mirip dengan
jantung. sistem saraf semut terdiri dari sebuah semacam
otot saraf ventral yang berada di sepanjang tubuhnya, dengan beberapa buah ganglion dan cabang yang berhubungan dengan
setiap bagian dalam tubuhnya.
Anatomi semut.
Pada kepala semut terdapat banyak
organ sensor. Semut, layaknya serangga lainnya, memiliki mata majemuk yang terdiri dari kumpulan lensa
mata yang lebih kecil dan tergabung untuk mendeteksi gerakan dengan sangat
baik. Mereka juga punya tiga oselus di bagian puncak kepalanya untuk mendeteksi
perubahan cahaya dan polarisasi. [8] Kebanyakan semut umumnya memiliki
penglihatan yang buruk, bahkan beberapa jenis dari mereka buta. Namun, beberapa
spesies semut, semisal semut bulldog Australia, memiliki penglihatan yang baik.
Pada kepalanya juga terdapat sepasang antena yang membantu semut mendeteksi rangsangan kimiawi. Antena semut juga
digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dan mendeteksi feromon yang
dikeluarkan oleh semut lain. Selain itu, antena semut juga berguna sebagai alat
peraba untuk mendeteksi segala sesuatu yang berada di depannya. Pada bagian
depan kepala semut juga terdapat sepasang rahang atau mandibula yang digunakan untuk membawa
makanan, memanipulasi objek, membangun sarang, dan untuk pertahanan. Pada
beberapa spesies, di bagian dalam mulutnya terdapat semacam kantung kecil untuk
menyimpan makanan untuk sementara waktu sebelum dipindahkan ke semut lain atau
larvanya.
Di bagian dada semut terdapat tiga
pasang kaki dan di ujung setiap kakinya terdapat semacam cakar kecil yang
membantunya memanjat dan berpijak pada permukaan. Sebagian besar semut jantan
dan betina calon ratu memiliki sayap. Namun, setelah kawin betina akan
menanggalkan sayapnya dan menjadi ratu semut yang tidak bersayap. Semut pekerja
dan prajurit tidak memiliki sayap.
Di bagian metasoma (perut) semut
terdapat banyak organ dalam yang penting, termasuk organ reproduksi. Beberapa
spesies semut juga memiliki sengat yang terhubung dengan semacam kelenjar beracun untuk melumpuhkan mangsa dan melindungi sarangnya. Spesies
semut seperti Formica yessensis memiliki kelenjar penghasil asam semut yang bisa disemprotkan ke arah
musuh untuk pertahanan.
4.
CACING
JENIS CACING TANAH
Ada sekitar 4500 spesies cacing di
dunia, sekitar 2700 di antaranya adalah spesies cacing tanah. Ada dua tipe
spesies cacing tanah berdasarkan perilaku hidupnya, yaitu earthmovers dan
composters (pembuat kompos).
- Earthmovers
adalah spesies soliter (penyendiri) yang hidup di dalam tanah dengan
membuat terowongan berongga di dalam tanah (rongga-rongga ini akan terisi
udara dan oksigen yang baik untuk akar tanaman). Mereka hidup dari memakan
bakteri, fungi, dan algae pada tanah dan memberikan nutrisi melalui kotoran
mereka ke tanah pada level akar yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.
- Sedangkan
Composters adalah spesies yang hidup secara massal dalam tumpukan organik
di permukaan tanah. Mereka mengkonsumsi bakteri, fungi, dan algae yang ada
pada dedaunan mati dan bahan organik lainnya dan mengubahnya menjadi
humus.
Spesies cacing tanah yang biasa
dikomersilkan antara lain Eisenia foetida, Lumbricus rubellus, Lumbricus
hortensis, Lumbricus terristris, Eudrilus engeniae, Eisenia andrei, dan
Perionyx excavatus. Cacing harimau (Eisenia foetida) dan cacing merah (Rubellus
lumbricus) merupakan cacing tanah
Cacing merah
(Lumbricus rubellus)
Cacing merah lebih memilih tinggal
di atas permukaan tanah, di bawah kayu lapuk, dedaunan kering dan sampah
organik lainnya.
ANATOMI
CACING TANAH
Tubuh cacing tanah sebagian besar
terdiri dari air dan tersusun atas segmen-segmen (sekitar 95 segmen) yang dapat
menyusut dan meregang untuk membantu cacing bergerak di dalam tanah. Cacing
tanah tidak memiliki tulang, gigi, mata, telinga atau kaki. Cacing tanah
memiliki lima jantung.
Cacing tanah memiliki organ perasa
yang sensitif terhadap cahaya dan sentuhan (reseptor sel) untuk membedakan
perbedaan intensitas cahaya dan merasakan getaran di dalam tanah. Selain itu,
mereka juga memiliki kemoreseptor khusus yang bereaksi terhadap rangsangan kimia.
Organ-organ perasa pada cacing tanah terletak di bagian anterior (depan/muka).
Anatomi
cacing tanah
Kepala cacing tanah terletak pada
bagian yang paling dekat dengan clitellum. Mereka biasanya bergerak searah
bagian kepala menghadap saat berpindah tempat.
Clitellum adalah segmen pada cacing
tanah (mirip korset) tempat kelenjar sel. Fungsinya untuk membentuk kokon
(kepompong) dari sekresi lendir dimana sel-sel telur akan diletakkan nantinya
di dalam kokon ini. Selama periode kekeringan, beberapa spesies cacing tanah
akan kehilangan ciri-ciri seksual sekunder untuk sementara, seperti hilangnya
clitellum. Saat keadaan membaik, clitellum akan terbentuk kembali. Clitellum
juga bisa menghilang pada usia tua.
Cacing tanah bernapas dengan kulit
mereka yang tipis. Kulit cacing harus tetap lembab sepanjang waktu untuk
memungkinkan untuk menghirup oksigen yang sangat dibutuhkan. Oksigen yang masuk
lewat kulit akan diikat oleh hemoglobin dalam darah dan akan diedarkan ke
seluruh tubuh. Jika kulit mereka mengering, cacing tanah akan mati lemas. Kulit
cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya matahari langsung ataupun suhu
panas yang dapat membuat kulit mereka kering.
Cacing tanah adalah hewan berdarah
dingin (poikiloterm), mereka tidak mampu menghasilkan panas tubuh. Suhu tubuh
mereka dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
5.
UNDUR-UNDUR
Undur-undur adalah sebutan untuk kelompok serangga dari famili Myrmeleontidae (kadang-kadang salah
dieja sebagai Myrmeleonidae). Di
dunia ini diperkirakan ada sekitar 2.000 spesies undur-undur
dan mereka tersebar di seluruh dunia, terutama di wilayah bersuhu hangat dan
berpasir.
Nama
"undur-undur" diberikan pada hewan ini karena kebiasaan larvanya berjalan
mundur saat menggali sarang jebakan di tanah. Di daerah Barat, hewan ini
dikenal dengan nama antlion
(semut singa). Nama itu diberikan karena kebiasaan larvanya yang memburu semut secara ganas
dengan cara menggali jebakan di dalam tanah sehingga
dianggap sebagai "singanya para semut".
Klasifikasi
Undur-undur memiliki nama famili Myrmeleontidae yang berasal dari bahasa
Yunani myrmex (semut) dan leon (singa) sehingga nama
Myrmeleontidae secara harfiah bisa diartikan "semut singa". Famili
Myrmeleontidae sendiri termasuk ke dalam ordo Neuroptera yang dalam bahasa
Yunani bisa diartikan sebagai "sayap jala" atau "sayap
berurat". Nama itu diberikan karena semua serangga dalam
ordo ini memiliki dua pasang sayap transparan dan berurat.
Anatomi
Undur-undur
memiliki penampilan yang sekilas mirip dengan capung karena
sama-sama memiliki abdomennya panjang dan memiliki dua pasang sayap transparan berurat pada thoraxnya. Ia bisa
dibedakan dengan capung dengan melihat antenanya yang panjang dan ujungnya
sedikit melengkung, ukurannya yang rata-rata lebih kecil, dan matanya yang
terletak di sisi kepala
serta berukuran lebih kecil dibandingkan mata capung. Undur-undur juga tidak
bisa terbang secepat dan selincah capung karena ia pada dasarnya merupakan
penerbang lemah.
Undur-undur
memiliki ukuran yang bervariasi. Jenis undur-undur terbesar di dunia diketahui
berasal dari genus Palpares yang hidup di Afrika dan rentang
sayapnya mencapai 16 cm. Spesies yang terkecil berasal dari wilayah Arabia dan rentang
sayapnya hanya sekitar 2 cm. Mayoritas undur-undur sendiri umumnya berukuran
antara 4-10 cm.
Daur hidup dan reproduksi
Reproduksi terjadi
tidak lama setelah undur-undur baru saja keluar dari kepompongnya.
perkawinan dimulai ketika sepasang undur-undur jantan dan betina hinggap di pohon. Sepasang
undur-undur itu lalu melakukan kopulasi dengan cara saling melekatkan ujung abdomennya.
Kopulasi bisa berlangsung hingga dua jam lamanya. Undur-undur betina yang sudah
dibuahi telurnya selanjutnya akan pergi mencari tempat untuk bertelur dan masih
mungkin kembali ke tempat yang sama untuk kembali kawin.
Undur-undur
mengalami metamorfosis sempurna: telur, larva, kepompong,
dan dewasa. Perkembangan undur-undur dimulai ketika betina meletakkan telurnya
di dalam tanah berpasir
dengan cara mengetuk-ngetuk abdomennya ke dalam tanah dan mengeluarkan
telur-telurnya di sana. Di dalam tangkapan, undur-undur betina bisa
mengeluarkan telur hingga 20 butir sekali bertelur dan biasanya ia memilih
pasir yang bersuhu hangat. Kadang-kadang, undur-undur betina yang sedang
menaruh telur di atas pasir tertangkap oleh larva undur-undur lain yang
kebetulan membuat jebakan yang berdekatan dengan tempatnya bertelur.[3]
Telur undur-undur
akan menetas menjadi larva yang bertubuh gempal, pipih, berkaki enam, dan
memiliki sepasang taring panjang di kepalanya. Mayoritas spesies larva undur-undur
selanjutnya akan membuat jebakan di tanah dengan cara bergerak mundur memakai tubuhnya
seperti mata bor dan mulai menggali dengan gerakan
spiral hingga akhirnya membentuk sarang jebakannya yang berbentuk seperti corong (biasa disebut
"liang undur-undur"). Pada sebagian spesies undur-undur semisal Dendroleon
pantheormis, larvanya tidak membuat sarang jebakan, namun hanya bersembunyi
di tempat-tempat tertentu lalu menerkam hewan kecil yang lewat di dekatnya. Hal
yang unik pada larva undur-undur adalah mereka tidak memiliki anus sehingga ampas
sisa-sisa metabolisme
tubuhnya akan disimpan dan baru dikeluarkan ketika mereka sudah menjadi
undur-undur dewasa.
Fase selanjutnya
dalam pertumbuhan undur-undur adalah fase kepompong
atau pupa. Kepompong mereka berupa kumpulan butiran pasir di sekitarnya
yang disatukan dengan sutra
dari kelenjar di abdomennya. Kepompong ini biasanya terkubur hingga beberapa
sentimeter di dalam tanah. Pada fase kepompong terjadi perubahan bentuk di
dalamnya dan setelah sekitar satu bulan, undur-undur dewasa akan keluar dan
mulai menunggu sayapnya
kering sebelum bisa terbang untuk mencari pasangan. Undur-undur dewasa
rata-rata berusia antara 20-25 hari, sementara sebagian dari mereka juga
diketahui bisa hidup hingga usia 45 hari.
Perilaku
Undur-undur dewasa
jarang terlihat di alam liar karena ia baru aktif keluar di sore hari dan bisa
terlihat menggerombol di malam hari saat sedang mencari pasangan kawin.[3]
Mereka juga kadang-kadang dianggap sebagai gangguan bagi manusia karena
jika hinggap pada seseorang, mereka bisa memberikan gigitan yang cukup
menyakitkan walaupun tidak sampai membahayakan.
Makanan
Larva undur-undur
terkenal sebagai pemangsa yang ganas karena ia memakan hampir segala jenis Arthropoda
kecil, terutama semut.
Ia berburu secara pasif dengan cara membuat sarang jebakan berbentuk
corong, lalu bersembunyi di tengahnya sambil menunggu ada mangsa yang terperosok
masuk. Bila ada mangsa terjebak masuk ke dalam perangkapnya namun masih bisa
bergerak naik, larva undur-undur akan melempari mangsanya dengan butiran pasir agar
tergelincir. Larva undur-undur mengetahui kehadiran korbannya dengan cara
merasakan getaran dari gerakan korbannya. Larva undur-undur juga memiliki
sepasang rahang tajam dan di ujungnya terdapat lubang untuk menyuntikkan racun ke dalam tubuh
mangsanya untuk membunuhnya, lalu mulai menghisap cairan tubuhnya.
Makanan
undur-undur dewasa lebih bervariasi. Sebagian spesies hidup dengan memakan nektar dari bunga,
sementara beberapa spesies lainnya hidup dengan memakan Arthropoda
kecil seperti halnya larva
undur-undur.
6.
KUPU-KUPU
Kupu-kupu dan ngengat (rama-rama) merupakan serangga yang
tergolong ke dalam ordo Lepidoptera, atau 'serangga bersayap sisik' (lepis,
sisik dan pteron, sayap). Secara sederhana, kupu-kupu dibedakan
dari ngengat alias kupu-kupu malam berdasarkan waktu aktifnya dan ciri-ciri
fisiknya. Kupu-kupu umumnya aktif di waktu siang (diurnal), sedangkan
ngengat kebanyakan aktif di waktu malam (nocturnal). Kupu-kupu
beristirahat atau hinggap dengan menegakkan sayapnya, ngengat hinggap dengan
membentangkan sayapnya. Kupu-kupu biasanya memiliki warna yang indah cemerlang,
ngengat cenderung gelap, kusam atau kelabu. Meski demikian, perbedaan-perbedaan
ini selalu ada perkecualiannya, sehingga secara ilmiah tidak dapat dijadikan
pegangan yang pasti. (van Mastrigt dan Rosariyanto, 2005).
Kupu-kupu dan
ngengat amat banyak jenisnya, di Pulau Jawa dan Pulau Bali saja tercatat lebih
dari 600 spesies
kupu-kupu. Jenis ngengatnya sejauh ini belum pernah dibuatkan daftar
lengkapnya, akan tetapi diduga ada ratusan jenis (Whitten dkk., 1999).
Kupu-kupu pun menjadi salah satu dari sedikit jenis serangga yang tidak
berbahaya bagi manusia.
Siklus hidup
Banyak yang
percaya bahwa kupu-kupu memiliki umur yang sangat singkat. Sebenarnya, kupu-kupu
dewasa mampu hidup selama seminggu maupun hampir setahun tergantung pada
spesiesnya. Kebanyakan spesies melalui tingkat larva yang agak lama, dan ada
yang mampu menjadi dorman ketika dalam tingkat pupa
atau telur agar dapat mengarungi musim dingin.
Kupu-kupu bisa
bertelur sekali atau banyak kali setiap tahun. Jumlah keturunan setahun berbeda
pada pengaruh iklim, yang mana kupu-kupu yang tinggal di daerah tropis mampu bertelur lebih sekali dalam setahun.
Telur
Telur kupu-kupu
dilindungi oleh kulit berabung keras yang disebut khorion ditutupi
dengan lapisan anti lilin yang melindungi telur dari terjemur sebelum larva
sempat berkembang sepenuhnya. Setiap telur memiliki pori-pori berbentuk corong
yang halus di satu ujungnya, yaitu mikropil yang bertujuan memungkinkan
masuknya sperma
untuk bergabung dengan sel telur. Lain spesies lain ukuran telurnya, namun semua
telur kupu-kupu berbentuk bola maupun ovat.
Telur kupu-kupu
dilekatkan pada daun dengan bahan perekat khusus yang cepat mengeras. Bila
mengeras, bahan itu berkontraksi dan membengkokkan bentuk telur. Perekat ini
mudah dilihat membentuk bahan meniskus yang mengelilingi tapak setiap telur.
Perekat ini jugalah yang diproduksi oleh pupa untuk mengikat seta-seta
kremaster. Perekat ini sungguh keras sampai lapik sutra yang melekatkan
seta-seta tidak bisa dipisahkan.
Telur kupu-kupu
selalu diletakkan pada tumbuhan. Setiap spesies kupu-kupu memiliki rentang
tumbuhan perumah yang sendiri, baik yang hanya satu spesies maupun berbagai
spesies. Tingkat telur dilalui selama beberapa minggu untuk kebanyakan
kupu-kupu, tetapi telur yang keluar tidak lama sebelum musim dingin, terutama
di daerah beriklim sedang, harus melalui tingkat diapaus (istirahat) dan
hanya menetas di musim semi. Ada spesies kupu-kupu yang lain yang bisa bertelur
pada musim semi agar telur dapat menetas pada musim panas.
Ulat
Larva kupu-kupu,
yaitu ulat, memakan
daun tumbuhan dan menghabiskan seluruh waktunya sebagai beluncas untuk mencari
makanan. Kebanyakan beluncas adalah maun, tetapi ada beberapa spesies seperti Spalgis epius dan Liphyra brassolis
yang memakan serangga.
Beberapa larva,
terutama yang tergolong dalam Lycaenidae, menjalin hubungan yang saling
menguntungkan dengan semut. Beluncas berhubungan dengan semut dengan
menggunakan getaran yang dipancarkan melalui substrat di samping merembeskan
sinyal kimia. Semut sedikit banyak melindungi larva ini; sebagai balasan, larva
menolong semut mengumpulkan rembesan madu.
Beluncas membesar
melalui serantaian tingkat yang disebut instar. Menjelang akhir setiap instar,
larva menjalani proses yang disebut apolisis, yang mana kulit ari, yaitu lapisan luar
keras yang terbuat dari campuran kitin dan protein-protein khusus, dikeluarkan dari epidermis yang lembut di
bawahnya, maka epidermis membentuk kulit ari yang baru di bawah. Di akhir
setiap instar, larva itu bersalin kulit lamanya, maka kulit baru berkembang lalu
mengeras dan menghasilkan pigmen dengan cepat. Proses menyalin kulit ini bisa
memakan waktu berhari-hari. Corak kepak kupu-kupu mulai berkembang pada tubuh
beluncas menjelang instar yang terakhir.
Ulat kupu-kupu
memiliki tiga pasang kaki tetap pada segmen toraks dan tidak lebih enam pasang prokaki yang tumbuh pada segmen
abdomen. Pada prokaki ini ada gegelang kait halus yaitu krusye yang
membantu beluncas menggenggam substrat.
Beberapa ulat bisa
menggembungkan sesebahagian kepalanya supaya mirip ular sebagai langkah
pertahanan. Ada juga yang dilengkapi dengan mata palsu agar lebih efisien.
Beberapa beluncas memiliki struktur khusus bergelar osmeterium yang dibokongkan
untuk merembeskan bahan kimia yang busuk pada tujuan pertahanan juga.
Kebiasaan dan Makanan
Banyak orang yang
menyukai kupu-kupu yang indah, akan tetapi sebaliknya jarang orang yang tidak
merasa jijik pada ulat,
padahal keduanya adalah makhluk yang sama. Semua jenis kupu-kupu dan ngengat
melalui tahap-tahap hidup sebagai telur, ulat, kepompong, dan akhirnya bermetamorfosa
menjadi kupu-kupu atau ngengat.
Kupu-kupu umumnya
hidup dengan mengisap madu bunga (nektar/ sari kembang). Akan tetapi beberapa jenisnya
menyukai cairan yang diisap dari buah-buahan yang jatuh di tanah dan membusuk,
daging bangkai, kotoran burung, dan tanah basah.
7.
AYAM
Deskripsi
Ayam (Gallus gallus domesticus)
Ayam termasuk kelas aves, tubuh terbagi atas paruh, kepala, leher, badan,
sayap, tungkai, dan ekor. Morfologi ayam meliputi bentuk conus, dimana paruh
pendek, lebih pendek daripada kepala. Bentuk sayap panjang karena ukuran dari
pengkolan kedua sampai ke ujung lebih panjang daripada badan. Tipe bulu adalah
bulu lengkap, yaitu terdiri dari batang bulu dan lembaran bulu pendek. Tarsus
metatarsus merupakan tipe scutellata. Jari terangkat, yaitu halluxnya melekat
pada bagian yang lebih tinggi diatas perlekatan jari-jari yang lain. Cakar tipe
obtuse, cakar agak melngkung dengan ujung tumpul. Kaki termasuk tipe berjalan,
yaitu halluxnya terangkat sehingga kedudukannya lebih tinggi dari jari-jari
yang lain. Ekor bulat, yaitu bulu tengah lebih panjang dan semakin ke tepi
berangsur pendek.